Penjelasan Tentang Asia Timur Raya Dan Arti 3A Oleh Jepang
Pada tanggal 7 Desember 1941, angkatan perang Jepang menyerang pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour. Peperangan yang dikobarkan oleh Jepang di Pasifik itu sering disebut sebagai perang Asia Timur Raya, yaitu peperangan menegakkan kemakmuran bersama di Asia atau di dunia. Dalam waktu empat bulan Jepang dapat menguasai Asia Tenggara. Daerah yang dikuasai meliputi, Indo Cina, Muang Thai, Birma, Malaya, Philipina, dan Indonesia (Dekker, 1993: 82). Di Indonesia Jepang lebih memusatkan serangan pada pulau Jawa yang saat itu merupakan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Sekitar tanggal 1 Maret 1942 Jepang mulai menyerang Jawa, yaitu dengan mendarat di daerah Banten, Indramayu, serta kemudian menyerang jantung kekuasaan Belanda, yaitu di Batavia dan Bandung. Untuk menghadapi serangan Jepang pada pulau Jawa dibentuk suatu komando oleh pihak Sekutu, yaitu ABDA COM (American British Dutch Australian Command) dengan markas di Lembang, dan yang menjadi panglima adalah Letnan Jenderal H. Ter Poorten (Panyarikan, 1993: 74). Namun ternyata pada penyerangan tersebut Batavia dapat direbut, sehingga Ter Poorter dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerah kepada Letnan Jenderal Imamura Hitoshi di Kalijati pada 8 Maret 1942.
Masa pendudukan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia. pada masa ini Jepang mempengaruhi masyarakat indonesia dengan melakukan Propaganda, hal ini bertujuan agar rakyat Indonesia menganggap bahwa Jepang berbeda dengan Belanda, jepang menyatakan bahwa dirinya adalah saudara jauh dan akan membantu Indonesia, gerakan 3A merupakan contoh dari propaganda jepang pada masa itu..
Pada tanggal 7 september 1944 di dalam sidang istimewa parlemen jepang di tokyo, Perdana Menteri Koiso mengumumkan tentang pendirian Pemerintah kemaharajaan Jepang, bahwa daerah Hindia Timur (Indonesia) diperkenankan merdeka kelak dikemudian hari.. dari hal ini dapat dilihat bahwa jepang hanya memberi angan-angan kosong bagi rakyat Indonesia, jika kita cermati lebih dalam Jepang tidak sungguh-sungguh memberi kemerdekaan bagi Indonesia, karena dalam sidang istimewa ini Koiso membentuk pemerintah kemaharajaan (jika berbentuk kemaharajaan berarti Indonesia berada dibawah kendali negara Jepang), angan-angan kedua yang diberikan jepang ialah diperkenankan merdeka kelak dikemudian hari , hal yang tidak pasti ini dapat diartikan bahwa jepang hanya memberikan harapan kosong bagi rakyat Indonesia agar membatu jepang yang pada waktu itu sedang berada dalam masa perang.
Sumber kekuatan Jepang akan bahan-bahan mentah dalam perang Pasifik terutama minyak. Jepang mengandalkan pada hasil-hasil bahan tersebut dari negara-negara yang didudukinya. Indonesialah yang paling utama menghasilkan minyak diantara daerah-daerah pewndudukan Jepang. Untuk kepentingan itu dicurahkan daya dan tenaga untuk mengeksploitasi kekayaan bahan mentah dan tenaga bangsa Indonesia. (Soedarno, 1982: 8). Pada pendudukan Jepang, kegiatan ekonomi diarahkan untuk kepentingan perang Jepang. Jepang berusaha menguasai sumber bahan mentah untuk industri Jepang. Yang pada prakteknya sangat memeras sumber daya alam dan sumber daya manusia. Jepang juga menyita perkebunan, pabrik, bank dan perusahaan vital lainnya. Pada masa penjajahan Jepang, kekayaan Indonesia dikuras habis sehingga rakyat kelaparan. Semua hasil bumi dirampas oleh Jepang. Para pemuda dipersiapkan untuk mempertahankan Indonesia dalam Perang Asia Timur Raya. Demi pendudukan Jepang. Rakyat Indonesia dijadikan Romusha untuk mengerjakan proyek Jepang, seperti jalan, pelabuhan dan lapangan terbang. Selain itu ada polisi militer (Kempetai) yang bertindak sangat kejam untuk menyiksa atau membunuh rakyat yang dianggap membantah perintah Jepang. Meskipun masa penjajahan Jepang di Indonesia lebih singkat daripada Belanda namun kekejaman Jepang berlipat dari kekejaman bangsa Belanda.
Pada tanggal 29 Maret 1942 Jepang membentuk gerakan 3 A untuk menutupi eksploitasinya terhadap kekeyaan bangsa Indonesia dan seolah-olah menampung kehendak rakyat. Namun tujuan sebenarnya dibentuk 3 A adalah mencari simpati rakyat Indonesia. Pada tanggal 9 Maret 1943 gerakan 3A dibubarkan karena dianggap tidak dapat dipergunakan sebagai alat untuk memenuhi nafsu perang Jepang. Adapun isi dari gerakan 3 A yaitu :
Doktrin-doktrin jepang tidak sertamerta mulus tanpa ganjalan, hal ini dibuktikan hal ini dibuktikan adanya perlawanan kelompok agama pada Jepang. Pelecehan terhadap agama Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia menimbulkan kekecewaan yang berakhir dengan perlawanan terbuka., kebiasaan orang Jepang yang mendewakan “kaisarnya” dengan penghormatan membungkukkan badan ke istana Kaisar di negeri Jepang, yang dikenal dengan sebutan Seikeirei yang wajib dilakukan pada upacara-upacara mirip dengan melakukan Rukuk umat Islam.(Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto ,110:2008) pendidikan semacam inilah yang menyebabkan hilangnya kepercayaan para ulama pada Jepang salah satunya ialah Buya Hamka, dalam Biografi Buya Hamka, jepang yang datang dengan propaganda saudara tua atau saudara jauh, hamka seperti juga kebanyakan tokoh lain menyebut jepang sosok pahlawan, jepang memanfaatkan ketokohan dan kepopuleran hamka untuk melakukan propaganda kepada umat muslim, propaganda paling akbar pernah dilakukan hamka dalam sidang umat Islam se Sumatera di alun-alun kota medan, hamka tampil untuk membakar semangat juang umat islam untuk membantu jepang namun dukungan ini berbalik menjadi sebuah protes. Protes dapat dilihat ketika Buya Hamka mengikuti suatu pertemuan 59 kiai seluruh Jawa di Bandung, pimpinan kolonel Horie pada tahun 1943, hamka menjadi satu-satunya orang Indonesia yang waktu itu ditempatkan diantara para perwira Jepang, yang tetap duduk ketika para hadirin dan lainnya bangun dan berdiri untuk melakukan Seikeirei. .(Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto ,110:2008) protes hamka dan umat Islam ini akhirnya membuahkan hasil pada Oktober 1943, umat islam dibebaskan dari keharusan melakukan Seikeirei pada pertemuan agama
Selain daripada itu, Jepang juga membentuk berbagai organisasi untuk memperkuat militernya. Demi untuk memenuhi kepentingan perang Asia Timur Raya yang memerlukan banyak tentara. Pemerintah Jepang berusaha mengerahkan porensi rakyat Indonesia dengan membentuk pendidikan semi-militer dan militer, seperti : Seinendan, Keobodan, Heiho dan PETA. Meskipun pengerahan tersebut dilaksanakan untu kepentingan Jepang, namun bangsa Indonesia mendapat keuntungan besar dari proses pendidikan militer ini. Hal ini terasa gunanya, kelak pada saat bangsa Indonesia menghadapi sekutu dan Belanda yang akan menjajah kembali Indonesia tahun 1945 – 1949. Sistem pendidikan pun harus disesuaikan dengan pengajaran dan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan militer Jepang. Pemimpin pergerakan di Indonesia menyadari bahwa melawan Jepang dengan kekuatan militer jelas tidak mungkin sebab kekuatan militer Jepang jauh lebih kuat dibandingkan dengan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, para pemimpin pergerakan Indonesia memanfaatkan organisasi-organisasi buatan Jepang untuk melawan Jepang. Memang bukan hal yang mudah untuk melawan Jepang yang begitu kuat. Perlu perjuangan yang keras untuk bisa melawan Jepang.
Sejak masuknya Jepang di Indonesia, organisasi yang berkembang pada saat itu dihapuskan dan diganti dengan organisasi buatan Jepang. Tetapi, pemerintah Jepang masih membiarkan kesempatan pada golongan nasionalis islam karena dinilainya sangat anti-barat, sehingga organisasi MIAI masih diperbolehkan tetap berdiri, tetapi karena perkembangannya dianggap membahayakan Jepang, akhirnya MIAI dibubarkan dan diganti dengan Masyumi.
Berlangsungnya Perang pasifik yang semakin melemahkan Angkatan perang Jepang mengakibatkan diperlukannya kembali tenaga-tenaga bangsa indonesia. Guna menahan ofensif Serikat yang semakin dasyat, Jepang mengubah sikapnya terhadap negeri-negeri yang didudukinya. Pada tanggal 1 Agustus1943 pengumuman Saiko shikikan tentang garis-garis besar rencana pengambilan bagian dalam pemerintahan negara yang dijanjikan itu, yakni meliputi badan-badan pertimbangan di daerah dan di pusat serta jabatan-jabatan tinggi untuk orang-orang Indonesia sebagai penasehat pada pemerintahan militer (Poesponegoro, MD&Notosusanto, N. 1993: 13)
Jepang menduduki Indonesia dengan cara memberi janji kepada Indonesia untuk membantu memerdekakan Indonesia. Berikut ini merupakan bentuk pendudukan Jepang dari segala sektor:
Daftar Rujukan
Isnaeni, H.F & Apid. 2008. ROMUSHA : Sejarah yang Terlupakan. Yogyakarta: penerbit OMBAK.
Dekker, N. 1993. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia: Diawali Pergerakan Nasional pada Permulaan Abad XX. Malang: IKIP Malang.
Panyarikan, K., S. 1993. Sejarah Indonesia Baru: Dari Pergerakan Nasional sampai Dekrit Presiden. Malang: IKIP Malang.
Poesponegoro, MD & Notosusanto, N. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI: Jaman Jepang dan Jaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Soedarno, Noerhadi. 1982. POETERA (Poesat Tenaga Rakjat). Jakarta: PT Tintamas Indonesia.
Pada tanggal 7 Desember 1941, angkatan perang Jepang menyerang pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour. Peperangan yang dikobarkan oleh Jepang di Pasifik itu sering disebut sebagai perang Asia Timur Raya, yaitu peperangan menegakkan kemakmuran bersama di Asia atau di dunia. Dalam waktu empat bulan Jepang dapat menguasai Asia Tenggara. Daerah yang dikuasai meliputi, Indo Cina, Muang Thai, Birma, Malaya, Philipina, dan Indonesia (Dekker, 1993: 82). Di Indonesia Jepang lebih memusatkan serangan pada pulau Jawa yang saat itu merupakan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Sekitar tanggal 1 Maret 1942 Jepang mulai menyerang Jawa, yaitu dengan mendarat di daerah Banten, Indramayu, serta kemudian menyerang jantung kekuasaan Belanda, yaitu di Batavia dan Bandung. Untuk menghadapi serangan Jepang pada pulau Jawa dibentuk suatu komando oleh pihak Sekutu, yaitu ABDA COM (American British Dutch Australian Command) dengan markas di Lembang, dan yang menjadi panglima adalah Letnan Jenderal H. Ter Poorten (Panyarikan, 1993: 74). Namun ternyata pada penyerangan tersebut Batavia dapat direbut, sehingga Ter Poorter dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerah kepada Letnan Jenderal Imamura Hitoshi di Kalijati pada 8 Maret 1942.
Masa pendudukan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia. pada masa ini Jepang mempengaruhi masyarakat indonesia dengan melakukan Propaganda, hal ini bertujuan agar rakyat Indonesia menganggap bahwa Jepang berbeda dengan Belanda, jepang menyatakan bahwa dirinya adalah saudara jauh dan akan membantu Indonesia, gerakan 3A merupakan contoh dari propaganda jepang pada masa itu..
Pada tanggal 7 september 1944 di dalam sidang istimewa parlemen jepang di tokyo, Perdana Menteri Koiso mengumumkan tentang pendirian Pemerintah kemaharajaan Jepang, bahwa daerah Hindia Timur (Indonesia) diperkenankan merdeka kelak dikemudian hari.. dari hal ini dapat dilihat bahwa jepang hanya memberi angan-angan kosong bagi rakyat Indonesia, jika kita cermati lebih dalam Jepang tidak sungguh-sungguh memberi kemerdekaan bagi Indonesia, karena dalam sidang istimewa ini Koiso membentuk pemerintah kemaharajaan (jika berbentuk kemaharajaan berarti Indonesia berada dibawah kendali negara Jepang), angan-angan kedua yang diberikan jepang ialah diperkenankan merdeka kelak dikemudian hari , hal yang tidak pasti ini dapat diartikan bahwa jepang hanya memberikan harapan kosong bagi rakyat Indonesia agar membatu jepang yang pada waktu itu sedang berada dalam masa perang.
Sumber kekuatan Jepang akan bahan-bahan mentah dalam perang Pasifik terutama minyak. Jepang mengandalkan pada hasil-hasil bahan tersebut dari negara-negara yang didudukinya. Indonesialah yang paling utama menghasilkan minyak diantara daerah-daerah pewndudukan Jepang. Untuk kepentingan itu dicurahkan daya dan tenaga untuk mengeksploitasi kekayaan bahan mentah dan tenaga bangsa Indonesia. (Soedarno, 1982: 8). Pada pendudukan Jepang, kegiatan ekonomi diarahkan untuk kepentingan perang Jepang. Jepang berusaha menguasai sumber bahan mentah untuk industri Jepang. Yang pada prakteknya sangat memeras sumber daya alam dan sumber daya manusia. Jepang juga menyita perkebunan, pabrik, bank dan perusahaan vital lainnya. Pada masa penjajahan Jepang, kekayaan Indonesia dikuras habis sehingga rakyat kelaparan. Semua hasil bumi dirampas oleh Jepang. Para pemuda dipersiapkan untuk mempertahankan Indonesia dalam Perang Asia Timur Raya. Demi pendudukan Jepang. Rakyat Indonesia dijadikan Romusha untuk mengerjakan proyek Jepang, seperti jalan, pelabuhan dan lapangan terbang. Selain itu ada polisi militer (Kempetai) yang bertindak sangat kejam untuk menyiksa atau membunuh rakyat yang dianggap membantah perintah Jepang. Meskipun masa penjajahan Jepang di Indonesia lebih singkat daripada Belanda namun kekejaman Jepang berlipat dari kekejaman bangsa Belanda.
Pada tanggal 29 Maret 1942 Jepang membentuk gerakan 3 A untuk menutupi eksploitasinya terhadap kekeyaan bangsa Indonesia dan seolah-olah menampung kehendak rakyat. Namun tujuan sebenarnya dibentuk 3 A adalah mencari simpati rakyat Indonesia. Pada tanggal 9 Maret 1943 gerakan 3A dibubarkan karena dianggap tidak dapat dipergunakan sebagai alat untuk memenuhi nafsu perang Jepang. Adapun isi dari gerakan 3 A yaitu :
- Jepang cahaya Asia
- Jepang pelindung Asia
- Jepang pemimpin Asia
Doktrin-doktrin jepang tidak sertamerta mulus tanpa ganjalan, hal ini dibuktikan hal ini dibuktikan adanya perlawanan kelompok agama pada Jepang. Pelecehan terhadap agama Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia menimbulkan kekecewaan yang berakhir dengan perlawanan terbuka., kebiasaan orang Jepang yang mendewakan “kaisarnya” dengan penghormatan membungkukkan badan ke istana Kaisar di negeri Jepang, yang dikenal dengan sebutan Seikeirei yang wajib dilakukan pada upacara-upacara mirip dengan melakukan Rukuk umat Islam.(Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto ,110:2008) pendidikan semacam inilah yang menyebabkan hilangnya kepercayaan para ulama pada Jepang salah satunya ialah Buya Hamka, dalam Biografi Buya Hamka, jepang yang datang dengan propaganda saudara tua atau saudara jauh, hamka seperti juga kebanyakan tokoh lain menyebut jepang sosok pahlawan, jepang memanfaatkan ketokohan dan kepopuleran hamka untuk melakukan propaganda kepada umat muslim, propaganda paling akbar pernah dilakukan hamka dalam sidang umat Islam se Sumatera di alun-alun kota medan, hamka tampil untuk membakar semangat juang umat islam untuk membantu jepang namun dukungan ini berbalik menjadi sebuah protes. Protes dapat dilihat ketika Buya Hamka mengikuti suatu pertemuan 59 kiai seluruh Jawa di Bandung, pimpinan kolonel Horie pada tahun 1943, hamka menjadi satu-satunya orang Indonesia yang waktu itu ditempatkan diantara para perwira Jepang, yang tetap duduk ketika para hadirin dan lainnya bangun dan berdiri untuk melakukan Seikeirei. .(Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto ,110:2008) protes hamka dan umat Islam ini akhirnya membuahkan hasil pada Oktober 1943, umat islam dibebaskan dari keharusan melakukan Seikeirei pada pertemuan agama
Selain daripada itu, Jepang juga membentuk berbagai organisasi untuk memperkuat militernya. Demi untuk memenuhi kepentingan perang Asia Timur Raya yang memerlukan banyak tentara. Pemerintah Jepang berusaha mengerahkan porensi rakyat Indonesia dengan membentuk pendidikan semi-militer dan militer, seperti : Seinendan, Keobodan, Heiho dan PETA. Meskipun pengerahan tersebut dilaksanakan untu kepentingan Jepang, namun bangsa Indonesia mendapat keuntungan besar dari proses pendidikan militer ini. Hal ini terasa gunanya, kelak pada saat bangsa Indonesia menghadapi sekutu dan Belanda yang akan menjajah kembali Indonesia tahun 1945 – 1949. Sistem pendidikan pun harus disesuaikan dengan pengajaran dan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan militer Jepang. Pemimpin pergerakan di Indonesia menyadari bahwa melawan Jepang dengan kekuatan militer jelas tidak mungkin sebab kekuatan militer Jepang jauh lebih kuat dibandingkan dengan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, para pemimpin pergerakan Indonesia memanfaatkan organisasi-organisasi buatan Jepang untuk melawan Jepang. Memang bukan hal yang mudah untuk melawan Jepang yang begitu kuat. Perlu perjuangan yang keras untuk bisa melawan Jepang.
Sejak masuknya Jepang di Indonesia, organisasi yang berkembang pada saat itu dihapuskan dan diganti dengan organisasi buatan Jepang. Tetapi, pemerintah Jepang masih membiarkan kesempatan pada golongan nasionalis islam karena dinilainya sangat anti-barat, sehingga organisasi MIAI masih diperbolehkan tetap berdiri, tetapi karena perkembangannya dianggap membahayakan Jepang, akhirnya MIAI dibubarkan dan diganti dengan Masyumi.
Berlangsungnya Perang pasifik yang semakin melemahkan Angkatan perang Jepang mengakibatkan diperlukannya kembali tenaga-tenaga bangsa indonesia. Guna menahan ofensif Serikat yang semakin dasyat, Jepang mengubah sikapnya terhadap negeri-negeri yang didudukinya. Pada tanggal 1 Agustus1943 pengumuman Saiko shikikan tentang garis-garis besar rencana pengambilan bagian dalam pemerintahan negara yang dijanjikan itu, yakni meliputi badan-badan pertimbangan di daerah dan di pusat serta jabatan-jabatan tinggi untuk orang-orang Indonesia sebagai penasehat pada pemerintahan militer (Poesponegoro, MD&Notosusanto, N. 1993: 13)
Jepang menduduki Indonesia dengan cara memberi janji kepada Indonesia untuk membantu memerdekakan Indonesia. Berikut ini merupakan bentuk pendudukan Jepang dari segala sektor:
- Sektor ekonomi
- Jepang memodernisasi pelabuhan dan perkapalan sehingga kegiatan perdagangan dapat berkembang.
- Didirikan bank-bank.
- Politik atau pemerintahan
- mengizinkan bendera Merah Putih dikibarkan di samping bendera Jepang, melarang penggunaan bahasa Belanda,
- mengizinkan penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari,
- mengizinkan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
- Sosial Budaya
- Golongan teratas yaitu golongan Jepang.
- Golongan kedua yaitu golongan pribumi.
- Golongan ketiga yaitu golongan Timur Asing.
- Pendidikan
- Membentuk Departemen Pengajaran
- Memberlakukan wajib belajar bagi anak-anak usia 6-14 tahun. Di sekolah anak-anak ditanamkan rasa cinta tanah air dan kaisar
- Militer
- Jepang menerapkan wajib militer bagi semua lapisan masyarakat.
- Membentuk tentara nasional. Untuk mendukung kebijakan tersebut maka: Jepang membeli peralatan dan perlengkapan militer dari negara-negara Barat Jepang meniru sistem militer dari berbagai negara Barat seperti Angkatan Darat (dari Perancis dan Jerman), dan Angkatan Laut (dari Inggris)
Daftar Rujukan
Isnaeni, H.F & Apid. 2008. ROMUSHA : Sejarah yang Terlupakan. Yogyakarta: penerbit OMBAK.
Dekker, N. 1993. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia: Diawali Pergerakan Nasional pada Permulaan Abad XX. Malang: IKIP Malang.
Panyarikan, K., S. 1993. Sejarah Indonesia Baru: Dari Pergerakan Nasional sampai Dekrit Presiden. Malang: IKIP Malang.
Poesponegoro, MD & Notosusanto, N. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI: Jaman Jepang dan Jaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Soedarno, Noerhadi. 1982. POETERA (Poesat Tenaga Rakjat). Jakarta: PT Tintamas Indonesia.
Komentar
Posting Komentar